Samarinda –
Kasus dugaan pencabulan dan kekerasan seksual terhadap anak terwujud di Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim). Seorang siswi berusia 15 tahun mengaku berperan korban pemerkosaan Bapak tirinya hingga hamil 5 purnama.
Ketua Tim Reaksi Sigap Perlindungan Wanita dan Anak (TRC PPA) Kaltim, Rina Zainun menyebut ketika ini pihaknya inti mendampingi korban. ketika ini kasus tersebut telah diberitakan ke Polsek Sungai Pinang, Samarinda.
“Tadi gelap kami telah mendampingi Abang korban Membikin laporan ke Polsek,” ujar Rina kepada detikKalimantan, Sabtu (27/6/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kasus ini terbongkar berawal setelah guru mengaji korban curiga menyaksikan perubahan fisik pada tubuh remaja tersebut. Korban Nan Tetap dudukin di kelas 1 SMA itu teridentifikasi internal kondisi hamil setelah dijalankan pemeriksaan.
“Setelah diajak mengerjakan tes kehamilan ternyata hasilnya positif. Setelah itu di bawa ke Griya Sakit ciptakan dijalankan USG, ternyata kondisi kehamilannya telah 5 purnama, ” ucapnya.
Temuan itu Lampau diberitakan kepada Kepala Dinas Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak (DP3A) Kalimantan Timur Nan lalu berkoordinasi berdua TRC PPA.
“Setelah mendapat laporan, kami langsung menemui korban dan mengerjakan asesmen Seiring tim legalitas,” ujarnya.
internal tahapan pendampingan, korban mengaku telah merasakan pelecehan seksual sejak Tetap dudukin di bangku kelas 5 sekolah Asas oleh Bapak tirinya. Namun korban mengaku setiap saat Berjuang melawan sehingga dugaan persetubuhan Tak tercapai dijalankan.
“Korban mengutarakan bahwa sejak kelas 5 SD sering merasakan pelecehan. Beliau terus melawan sehingga pelaku Tak tercapai mengerjakan persetubuhan,” terangnya.
Menurut pengakuan korban, dugaan persetubuhan pada akhirnya terwujud pada Januari 2026. ketika itu korban telah Tak Bisa melawan dikarenakan kalah tenaga dari pelaku Nan Mempunyai postur tubuh kelebihan Akbar.
“Di purnama Januari 2026 korban udah gak meraih melawan lagi, dikarenakan postur tubuh Bapak tirinya ini Akbar, hingga terwujud persetubuhan ketika itu,” ungkapnya.
Rina berbisik ketika melancarkan aksinya, terlapor setiap saat memanfaatkan kondisi Griya Nan sedang Hampa. Hal itu Membikin korban Tak meraih berbuat apa-apa.
“Perbuatan pelecehan atau persetubuhan ini terwujud ketika Abang korban bekerja dan ibunya berjualan. Jadi terlapor tau persis Bilamana meraih mengerjakan hal itu,” sebutnya.
Atas peristiwa itu, korban ketika ini inti menjalani perawatan psikolog lantaran merasakan trauma. Selain itu, korban ketika ini telah berada di di Griya keluarganya lantaran menganggap khawatir kembali ke Griya dan Berjumpa Bapak tirinnya.
“Kondisi korban ketika ini Tetap merasakan trauma, itu sebabnya korban kita bawa ke Griya tantenya ciptakan dirawat,” pungkasnya.
(aau/aau)