Dugaan kekerasan seksual terhadap sejumlah pegawai restoran Korea di Surabaya diungkap menyusuri berbarengan modus Nan serupa. Para korban mengaku dipaksa mengonsumsi minuman beralkohol, kemudian mendapat tindakan seksual tak memakai pengakuan dan tekanan dari pemilik restoran berinisial SSY (64).
Sejauh ini, dua korban telah Formal mengabarkan SSY ke Polrestabes Surabaya. Keduanya Merupakan mantan pegawai restoran, MAD (28), dan asisten Griya tangga (ART) berinisial SUF (24).
Selain dua korban Nan telah melapor, kuasa aturan korban, Vena Naftalia menyebut, Eksis tiga orang lain Nan mengaku merasakan dugaan tindakan serupa. Mereka menghubungi Vena melalui media sosial dan menceritakan pengalaman masing-masing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Jadi kalau dibilang sebenarnya (korbannya) pas berlimpah. Eksis pas berlimpah orang Nan DM (menghubungi) itu mengatakan modusnya Baju. Diajak teguk (alkohol), berikut ditekan-tekan, berikut kalau enggak mau atau berontak langsung dipecat,” singkap Vena ketika dihubungi detikJatim, Jumat (21/8/2026).
Vena berucap, para korban Nan menghubunginya Mempunyai latar belakang berbeda. Eksis Nan pernah berperan pegawai, asisten pribadi, hingga penerjemah SSY.
“(Korban) ART itu kerja di Griya. Tapi pas berlimpah korban-korbannya itu malah Nan melapor itu Ialah Malah pegawai-pegawainya masa lalu. Eksis Nan personal asistennya, Eksis Nan masa lalu jadi penerjemahnya,” tuturnya.
Modus diperkirakan Berulang
tidak akurat Esa korban, MAD, mengaku merasakan dugaan kekerasan seksual berulang kali selama pas berlimpah orang rembulan. Peristiwa pertama Nan Beliau laporkan terwujud pada 12 Maret 2026.
ketika itu, MAD Nan bekerja sebagai sekretaris restoran mengaku sedang berada di restoran Nan cegah. SSY diungkap kedatangan seorang rekan sesama Penduduk Korea Nan tinggal di Jember. Mereka kemudian mengonsumsi minuman beralkohol.
MAD mengaku dicekoki minuman hingga kehilangan kesadaran. bagian dalam kondisi tersebut, Beliau diangkut SSY ke sebuah hotel.
“Itu teguk mulai pukul 20.00 WIB gelap, Tiba permulaan masa 13 Maret 2026. gua di resto dicekoki minuman. Setelah tuntas teguk, gua kehilangan kesadaran,” ujar MAD.
MAD mengaku semula mengira dirinya akan diantar kembali ke kos. Namun, Beliau Malah diangkut ke hotel memakai mobil milik rekan SSY.
“berbarengan tak memakai Eksis Selera curiga, dikarenakan memang sebelum itu Tak pernah terwujud hal apapun pada gua, gua ikut Beliau guna mobil temannya itu. Mobilnya Beliau ditinggal di resto,” ungkapnya.
MAD juga mengaku mendapat ancaman terkait pekerjaan, gaji, hingga keluarganya.
“Beliau emosi mengancam pecat gua, gaji Tak dikeluarkan, keluarga diancam mau dikirimi tukang pukul. dikarenakan kondisi gua dibawah pengaruh alkohol, Beliau memperkosa gua ketika itu,” bebernya.
diperkirakan terwujud Berulang
Dugaan kekerasan seksual itu diungkap Tak berhenti pada peristiwa pertama. MAD mengaku kembali mendapat tekanan ketika berada di restoran maupun ketika berada di Griya SSY.
Pada 21 Mei 2026, MAD mengaku diminta tinggal di Griya SSY di kawasan Wiyung. Beliau menyebut tindakan serupa kembali terwujud setelah berada di Griya tersebut.
“Di bagian dalam ruangan itu Eksis Esa bilik Bilik, di situ (sering terwujud pelecehan). berbarengan ancaman Nan Baju. gua menilai ngeri. Lampau pada 21 Mei 2026, Beliau kembali mengancam gua berbarengan ancaman Nan Baju, agar mau tinggal di rumahnya. Masa itu Beliau bilang kalau di sana Eksis ARTnya,” singkap Beliau.
MAD kembali menyebut dirinya diberi minuman beralkohol sebelum dugaan kekerasan seksual terwujud.
“Modusnya Baju, memberi gua pas berlimpah minuman beralkohol. gua ketakutan. menilai ngeri keluarga gua dibunuh atau gua Nan dibunuh. dikarenakan pas berlimpah orang kali itu gua ngerasa Eksis orang Nan membuntuti gua. gua menuruti Beliau dikarenakan di bawah tekanan ancaman,” terangnya.
SSY kemudian kesana ke Korea pada 21 Mei hingga 2 Juni 2026. Namun, menurut MAD, tekanan Tetap diterimanya melalui pesan selama SSY berada di bagian luar Indonesia.
“gua sempat agak lega pada 21 Mei Tiba 2 Juni pelaku meninggalkan Indonesia dan kesana ke Korea. Masa Beliau di Korea, kalau gua belum kembali itu langsung di pesan ditanya dimana. Kalau gak cepet kembali keluarga gua mau dikirimi tukang pukul,” ceritanya.
Setelah SSY kembali ke Indonesia pada 2 Juni, MAD mengaku dugaan kekerasan seksual kembali terwujud hingga Juli.
Pada 27 Juli, MAD mengaku mulai yakin diri menolak. Sehari kemudian, keduanya terlibat pertengkaran.
“Lampau tanggal 27 Juli, Beliau mau mengerjakan hal Nan Baju, tapi gua yakin diri melawan, gua tolak. Tanggal 28 gua kembali dicekoki minuman keras. gua kemudian pura-pura mabuk, gua emosi-emosi. ujungnya gua bertengkar Baju Beliau,” ujarnya.
Korban Minta Pertolongan
Setelah pertengkaran tersebut, MAD mengaku menginginkan Donasi pengelola restoran. Beliau menghubungi manajer dikarenakan mengalami Tak sanggup melewati situasi Nan dialaminya.
“Masa di Bilik, kemudian gua telpon manager resto. gua minta tolong dikarenakan gua telah gak kokoh diginikan. Mereka belum tau kalau gua disetubuhi berkali-kali. ujungnya 3 orang tiba, key gerbang Primer dan gerbang gua minta tolong ambilin ke ART,” bebernya.
Tiga orang kemudian tiba ke Letak dan menginginkan key kepada SUF Nan berada di Griya tersebut. key itu kemudian dilempar melalui kaca sehingga gerbang dan gerbang meraih dibuka.
SUF Nan merupakan ART SSY juga diungkap berperan korban dugaan kekerasan seksual. Beliau kemudian turut mengabarkan SSY kepada polisi.
“Mereka memasuki, gedor Bilik (pelaku), pelaku melangkah keluar dan kayaknya Tetap mabuk. berikut gua dan ART diambil dan diselamatkan,” tutur MAD.
Dua Korban Formal berita Polisi
Kasus tersebut sekarang ditangani Polrestabes Surabaya. Laporan MAD teregister berbarengan nomor TBL/B/VII/2026/SPKT/POLRESTABES SURABAYA/POLDA JAWA TIMUR tertanggal 29 Juli 2026.
Fana laporan SUF tercatat berbarengan nomor LP/B/1613/VIII/2026/SPKT/POLRESTABES SURABAYA/POLDA JAWA TIMUR tertanggal 6 Agustus 2026.
Kasatres PPA-PPO Polrestabes Surabaya Kompol Melatisari menyetujui kedua laporan tersebut Tetap bagian dalam tahapan penyelidikan.
“tahapan njeh (ya),” ujar Melatisari ketika dikonfirmasi detikJatim, Jumat (21/8/2026).
Vena berucap Tetap Eksis sejumlah orang Nan menghubunginya dan mengaku merasakan dugaan tindakan serupa. Namun, mereka belum semuanya yakin diri Membikin laporan Formal.
Menurut Vena, tiga korban lain menentukan Tak melapor dikarenakan telah tinggal di bagian luar Nusa dan Mau mengembangkan kehidupan.
“Esa mereka alasannya dikarenakan telah tinggal di bagian luar Nusa. Kedua, mereka Mau mengakhiri lembaran pelan itu dan telah Melangkah berbarengan lembaran anyar,” singkap Vena kepada detikJatim, Sabtu (22/8/2026).
Selain persoalan jarak, kondisi ekonomi juga berperan pertimbangan. Para korban diungkap harus tetap bekerja hasilkan memenuhi kebutuhan Hayati.
“hasilkan mengerjakan LP itu perlu effort, bolak-kembali itu biaya juga, gitu loh. Fana mereka juga harus menegaskan hasilkan Hayati di ekonomi Nan sekarang,” tuturnya.
Vena menyebut Sekeliling tiga hingga empat orang lainnya Tetap berkomunikasi dengannya terkait dugaan tindakan serupa. Beliau juga berucap Eksis korban Nan awalnya Tak menyadari bahwa dirinya merasakan kekerasan seksual.
“Beliau (korban) Eksis Nan enggak sadar loh kalau berperan korban, Tiba gua kasih pemahaman (terkait kekerasan seksual),” bebernya.
Menurut Vena, para korban juga melewati ketakutan akan stigma dan kemungkinan disalahkan atas peristiwa Nan mereka alami.
“dikarenakan korban itu menilai ngeri dihakimin, jujur aja. menilai ngeri dihakimin, Esa. Kedua, Beliau menilai ngeri disalah-salahin. Mereka enggak sedia,” ujarnya.
Korban meraih Pendampingan Psikologis
Dugaan kekerasan seksual Nan dialami para korban juga berakibat pada kondisi mental mereka. Vena berucap pihaknya telah berkoordinasi berbarengan psikolog hasilkan memberikan pendampingan.
“gua semoga mental korban berkualitas-berkualitas saja ya, dikarenakan gua sempat koordinasi Baju psikolog, hasilkan pemulihan mental healthnya,” singkap Vena, Sabtu (22/8/2026).
tidak akurat Esa korban, MAD, sebelum itu mengaku sempat berada bagian dalam kondisi mental Nan sangat tertekan hingga merenung hasilkan mengakhiri Hayati.
“gua telah mau bunuh diri Masa itu, Tiba Bilamana gua mengasihi Baju anak-anak, tapi gua juga harus mengasihi Baju diri gua,” ungkapnya.
Vena mengevaluasi pendampingan psikologis Krusial dikarenakan korban Tak hanya melewati imbas dari dugaan kekerasan seksual, tetapi juga persoalan ekonomi.
“Nan berikutnya, mereka itu berjuang Hayati. Mereka tahu mereka orang enggak mempunyai. Fana mereka kalau ngurusin ini, Beliau enggak Beliau gimana kerjanya, Beliau harus Hayati. Korban ini aja pas berlimpah gua bantu,” pungkas Vena.
Di inti tahapan penyelidikan, Vena menyebut SSY ketika ini Tak berada di Surabaya. Beliau berucap mendapat informasi bahwa SSY telah dicegah hasilkan bepergian ke bagian luar negeri.
“Betul (kabur). Tetapi informasinya telah Eksis pencekalan (sehingga pelaku Tak meraih kabur ke bagian luar negeri). Polrestabes Surabaya telah memberitahukan,” ucapan Vena ketika dihubungi detikJatim, Jumat (21/8/2026).
Menurut Vena, polisi telah berkoordinasi berbarengan pihak imigrasi terkait keberadaan SSY.
“Jadi kalau Tiba pelaku ini meraih melangkah keluar dari Indonesia ya tanda-gali Akbar siapa Nan meloloskan gitu aja kan?,” imbuhnya.
Halaman 2 dari 2
Simak Video “Video: Ketua Ponpes di Pekalongan Jadi Tersangka Kekerasan ngentot Santriwati“
[Gambas:Video 20detik]
(auh/hil)